Postingan

Suara Mahasiswa

     Hari ini, tintaku mulai menyala. Rasa sesak kian menjadi-jadi, mungkin inilah rasanya berada di bagian bawah Negeri. Kami mulai melantangkan suara, membawa suara kecil rakyat yang tidak pernah didengar oleh penguasa Negeri. Apakah ucap lantang dihadapan Tuhan dan manusia hanya suara kiasan??. Apakah keadilan berpihak pada sepenggal dari kata "Rakyat Indonesia"??.       Negeri ini haus akan validasi, maka dimana orang-orang berdasi saat ini? sudah jelas di hadapan gedung serba guna milik petinggi. Maha-siswa, bersuara. Kau tau Tuan berdasi?, ketika Mahasiswa bersuara, itu sebab mereka meminta jawaban dan alasan bahkan pertanggung jawaban atas suara kiasanmu di hadapan manusia. Apa kau tidak mengerti itu wahai Tuan berdasi?!!. Senyum sayang, katanya Untuk kebaikan Negeri, katanya Tetapi, mengapa cepat mengambil palu lalu di ketok-ketok dan tak membiarkan suara lain berdering. Tuan, ingin cepat tidur? atau cepat kaya? atau apa? Ayolah Tuan, angat sua...

Gubuk Tua di Persimpangan Jalan

        Bila terkesan baku, memang itu adanya. Bersinggahlah sebentar di Gubuk tua dekat persimpangan jalan, Kau akan menemukan Saya yang sedang bersembuyi dibawah bantal tanpa teman. Gama (bahasa sansekerta : perjalanan) membawa kaset dari masa lalu dengan tangan penuh darah. Sudah cukup kisah klise kau, mari Saya buatkan buku baru dengan halaman lengkap genap. Tetapi, bila Kau tidak terima dengan halaman terakhir yang Saya buat, maka buatlah itu dengan tinta baru milik Kau, Tuan atau Kau, Nyonya. Adanya diri Kau hari ini, di Gubuk tua dekat perempatan jalan sebab Saya memanggil Tuan dan Nyonya, beserta anak penuh tinta dan listrik ini. Izinkan Saya membuatkan buku versi terbaik miliknya, Tuan. Untuknya yang tegar seperti edelweiss, dan rapuh seperti karang. Tenang Tuan, sudah Saya siapkan garansi yang setimpal untuk semuanya, untuk Tuan, Nyonya, dan anak-anak Tuan kelak. Indurasmi (bahasa sansekerta : Sinar rembulan), itulah sedikit bocoran sub-bab dalam buk...